patah hatiSaya masih bingung dengan yang namanya cinta. Kali ini yang akan saya jadikan contoh adalah kisah tetangga saya. Ini kisah nyata yang sangat memilukan. Sebut saja namanya Nduk, biasa dipanggil Bik Nduk… (Bik dalam bahasa Indonesia berarti bibik). Beliau sudah lumayan berumur, ya kira-kira 40 tahunan lah. Menurut cerita Ibu saya, bik Nduk sudah menikah 2 kali. Dengan suami pertama, dia dikaruniai 2 orang putri. Sekarang semuanya sudah bekerja di Bali. Saya nggak tahu kerjanya apa. Sedangkan dengan suami kedua (yang sekarang), bik Nduk dikaruniai 1 orang putra. Suaminya yang sekarang berusia jauh lebih muda daripada bik Nduk. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa menikah. Ya mungkin inilah yang namanya cinta.

Tapi disinilah letak permasalahannya. Akhir-akhir ini suami muda bik Nduk digosipkan selingkuh dengan tetangganya sendiri. Bahkan ini sudah bukan menjadi gosip lagi. Desas desusnya, bik Nduk sudah pernah memergoki keduanya. Bahkan lagi, suami bik Nduk ini sudah mengakui kalau dia selingkuh. :sigh:

Seperti kebanyakan wanita, setiap bertemu dengan sesama jenisnya, mereka pasti ngerumpi, ngegosip, atau curhat. Nah, begitu juga yang dilakukan bik Nduk ketika main ke rumah saya. Kebetulan saat itu saya sedang main komputer, dan komputer saya ada di ruang tamu/depan, jadi ya secara tidak diinginkan saya juga mendengarkan cerita penuh keluh kesah dan kecemburuhan bik Nduk.

Dengan penuh emosi dan kadang tetesan air mata, bik Nduk mengungkapkan beban yang dia alami. Dia bilang, suaminya tega sekali selingkuh. Padalah bik Nduk sudah mencintai suaminya dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Karena kecemburuan yang sudah amat sangat, bik Nduk meledak juga. Dengan tangisan seperti semangat 45, bik Nduk mengata-ngatai perempuan selingkuhan suaminya dengan berbagai kata-kata sedap. Ucapannya semakin tidak terkontrol. Telinga saya semakin panas mendengar curhatan wanita separuh baya ini. Saya putuskan, dengan sedikit tidak sopan untuk mengeraskan volum speaker komputer saya. “Lebih damai dengerin musik ini daripada curhatan tuh orang…”, gumam saya.

Yang saya bingungkan:
Kenapa ya, bik Nduk itu tidak meninggalkan dan melupakan suami mudanya saja?? Padahal sudah dia rasakan sendiri, bagaimana sakitnya hatinya di cacah dan di iris-iris dengan samurai perselingkuhan oleh suami mudanya. Saya mendengarkan curhatannya saja sudah eneg, tapi kenapa bik Nduk masih tetap bertahan ya? Apa ini yang namanya cinta?

Tapi, bukankah cinta itu untuk membuat kita damai dan bahagia. Kalau seperti ini apa masih pantas disebut cinta? Saya rasa tidak.

Wahai Anda para wanita, apakah Anda akan melakukan hal yang sama jika mengalami kejadian yang sama dengan bik Nduk? Apakah setiap wanita selalu begitu saat sudah mencintai pria?:sigh:

PS.

  1. Mohon maaf jika ada kesamaan tokoh dalam cerita ini dengan kehidupan Anda.
  2. Jika keluarga bik Nduk membaca cerita ini, maaf ya! Saya tidak bermaksud menggosipkan keluarga sampean disini… Ini hanya sebuah bahan diskusi saja. Sekali lagi maaf dan terima kasih! sengihnampakgigi

Pengunjung yang membaca tulisan ini, juga membaca:

Popularity: 10% [?]