ambisiHm… akhir-akhir ini saya sedang tidak stabil (bukannya remaja emang gitu?). Begitu banyak impian, keinginan, dan ambisi menghampiri dan mendekap. Belum satu keinginan tercapai, muncul 10 yang lain. Sampai saya pernah berpikir, betapa kurangnya diri saya ini. Banyak sekali orang-orang yang begitu hebat. Banyak sekali orang-orang yang sudah memiliki hal-hal yang sedang saya perjuangkan. Tapi itu semua tidak membuat saya down. Justru akhir-akhir ini saya semakin bersemangat. Bersemangat mengejar impian satu per satu.Satu ambisi besar saya adalah menjadi sehebat blogger idola saya, dan lebih hebat dari teman-teman blogger sebaya saya. Saya sangat bersemangat mengejar ambisi itu. Tapi semakin saya berlari, rasanya semakin berat. Benar-benar berat. Ini benar-benar beda dengan jika saya blogging dengan hati. Blogging dengan fokus pada impian. Blogging tanpa ambisi.

Ceritanya, kemarin saya sedang lelah. Lelah akan usaha saya mengejar ambisi, ditambah dengan masalah pribadi (tahu kan? sengihnampakgigi) dan sekolah… Sebagai hiburan, saya putuskan untuk mendownload untuk kemudian menonton Naruto Shippuden 114. Naruto memang salah satu favorit saya.

Selagi proses download berlangsung, saya membaca komik yang dulu pernah disarankan teman baik saya, mas Syamsul Alam. Komik tersebut tentang kehidupan percintaan dan pendidikan seorang remaja bernama Hacibe Maeda. Ada yang tahu? Kalau belum dan ada yang berminat, silakan baca komik Ai Kora di OneManga.

Tidak terasa Naruto Shippuden episode 114 sudah 100% terdownload ke komputer saya. Langsung saja saya matikan modem dan membuka file flv yang barusan saya download. Saya masih teringat pertarungan antara Sasuke dan Orochimaru pada Naruto Shippuden 113 kemarin yang belum selesai. Saya yakin, di episode 114 ini akan sangat seru. Dan prediksi saya benar.

Ditengah pertarungan sengitnya dengan Sasuke Uchiha, Orochimaru membayangkan masa lalunya. Ketika dulu dia secara sadar, mengintip Itachi Uchiha (kakak Sasuke) yang sedang berlatih dalam sebuah ruangan. Orochimaru terkagum dengan kemampuan mata Sharingan yang dimiliki Itachi. Dengan mata tersebut, Itachi mempu menghindari jebakan yang selama ini, belum pernah ada yang bisa menghindarinya. Orochimaru semakin terkagum karena saat itu, Itachi masih sangat muda. Orochimaru berasumsi kalau Sharingan memang yang paling dahsyat. Terbersit keinginan Orochimaru untuk bisa seperti Itachi. Sejak saat itu, Orochimaru berambisi untuk merebut mata yang begitu hebat tersebut, Sharingan.

Segala macam cara dilakukan Orochimaru untuk mendapat mata impiannya. Ketika dia masih tergabung di Akatsuki, Orochimaru pernah mencoba merebut sharingan milik Uchiha Itachi. Tapi ketika itu ia gagal. Cerita pun berlanjut bertahun-tahun ketika dia sudah keluar dari Akatsuki. Ambisinya tetap. Menjadi orang terkuat dengan mata Sharingan. Tapi kali ini, targetnya berubah. Dia beranggapan Itachi masih terlalu kuat. Oleh karena itu, dia menargetkan Sasuke sebagai incarannya.

impianTapi pada akhirnya, ambisinya lah yang akhirnya mengakhiri kehidupan Orochimaru secara tragis. Dia dibunuh dengan begitu menyedihkannya oleh Sasuke, seorang yang sudah sejak lama ingin dia bunuh dan ambil Sharingannya.

Dari cerita Naruto 114 tersebut saya tersadar. Saya berpikir kalau keadaan saya sekarang bisa dikatakan sama dengan Orochimaru dulu. Ingin menjadi yang terhebat dan mengalahkan siapapun. Saya pun kembali berpikir soal hal itu untuk beberapa lama. Hingga pada pagi ini saya menulis posting ini, saya sudah kembali meneguhkan. Kalau impian, itu yang seharunya tetap saya kejar sampai dapat. Bukan ambisi.

Impian dan ambisi bagaikan 2 sisi yang berlawanan. Impian adalah sesuatu terbaik yang ingin saya raih, dengan menjadi diri saya sendiri. Sedang ambisi, sesuatu terbaik yang ingin saya raih dengan menjadi lebih hebat dari orang lain (Hangga Nuarta).

Pengunjung yang membaca tulisan ini, juga membaca:

Popularity: 10% [?]